Sabtu, 02 Februari 2019

Contoh Teks Hikayat

Hay guys ini hikayat buatan aku sendiri. Baru pertama kali buat hikayat jadi maaf jika ada salah salah kata yang tidak sesuai. Selamat membaca 😊


PEDANG SAKTI

Dahulu kala di Desa Simapur ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Margasura. Kerajaan itu makmur sejahtera yang dihuni oleh Keluarga Kabuana. Raja dari Kerajaan Margasura adalah Raja Sultan Syah Praja Kabuana biasanya akrab di panggil Raja Syah Praja. Sang raja memiliki istri bernama Ratu Sinta Dwi Cahya. Pasangan tersebut memiliki seorang putri cantik yang mereka sayangi bernama Adinda Putri Cahya. 
Suatu hari Adinda ulang tahun yang ke-15, ulang tahun Adinda tidak dirayakan besar - besaran hanya makan - makan sekeluarga dan kerabat dekat. Awalnya Raja Syah Praja dan Ratu Sinta Dwi Cahya merencanakan acara ulang tahun putrinya, tetapi Adinda mengetahui rencana itu dan meminta kepada kedua orang tuanya membatalkan rencana ulang tahun tersebut. Alasan Adinda meminta kepada kedua orang tuanya untuk mamembatalkan acara ulang tahun itu karena Adinda tidak suka yang berlebihan dan membuang-buang tenaga dan uang.
Acara makan-makan dilaksanakan malam hari diruang makan. Acara itu berjalan dengan lancar tidak ada masalah apapun yang terjadi di kerajaan. Setelah acara itu berakhir semua keluarga dan kerabat bubar masing - masing. Raja Syah Praja dan Ratu Dwi Sinta duduk berpindah di ruang keluarga, yang terletak berada di dapan kamar sang putri. Adinda berada di kamarnya kemudian Raja Syah Praja memangginya dan  memberikan  hadiah yang ternyata isinya pedang. 
Raja : "Adinda... kemarilah..!!"  (Teriak Raja memanggil Adinda).
Adinda : "Iya ayah ada apa..??" (Adinda berlari menghampiri ayahanda).
Raja : "Ini hadiah untukmu..." (Menyerahkan  hadiah sambil tersenyum).
Adinda : "Aku buka ya ayah.." (Tersenyum bahagia menerima hadiah dari ayahnya).
Raja : "Iya nak, silahkan..!!" (Menarik tangan Adinda untuk duduk di sebelah ayah dan ibundanya).
Adinda : "Waahh,.. Aku suka yah pedangnya bagus sekali. Terimakasih ayah,bunda." (Adinda gembira atas hadiah dari ayahnya dan memeluk kedua orang tuanya spontan).
Adinda melepaskan pelukan bersama kedua orang tuanya tersebut. Awalnya Adinda nampak senang membuka dan melihat isi hadiah dari kedua orang tuanya itu. Setelah di pikir - pikir oleh Adinda, ia tiba - tiba murung dan sedih. Ayahnya mencurigai perubahan raut wajah Adinda.
Raja : "Kenapa kamu murung dan sedih Adinda..??" (Tanya sang ayah kepada Adinda).
Adinda : "Adinda tidak bisa cara menggunakan pedang ini ayah." ('Adinda tertunduk sedih).
Raja : "Jangan sedih Adinda, ayah akan melatihmu cara menggunakan pedang itu." (Mengangkat dagu sang putri sambil tersenyum).
Adinda : “Sungguh ayah..?? (Tersenyum bahagia mendengar pernyataan dari ayahnya).
Raja : Iya Adinda... (Mengelus kasar rambut Adinda).

Setelah itu Adinda pergi kekamarnya membawa pedang tersebut dan memasukkannya ke dalam kotak lalu menaruh kotak itu di lemari. Kemudian Adinda tidur dengan perasaan senang, gembira, dan tidak sabar berlatih pedang bersama ayahnya.

Keesokkan harinya Adinda dilatih oleh ayahnya tentang menggunakan pedang. Dari cara-cara menggunakan pedang, teknik penyerangan yang benar, melawan musuh sendirian dan sebagainya. Adinda memperhatikan betul setiap ayahnya memberikan contoh gerakan - gerakan saat menggunakan pedang. Setelah ayahnya memberikan contoh giliran Adinda memperagakan contoh yang diberikan ayahnya.
 Raja Syah Praja senang mengajari putrinya tanpa butuh waktu lama Adinda sudah bisa menggunakan pedang pemberian ayahnya tersebut. Setiap hari Adinda berlatih Hari demi hari Adinda semakin mahir menggunakan pedang dan mencoba melatih dirinya sendiri tanpa sang ayah di waktu kosongnya.
Dari kejauhan Raja Syah Praja dan Ratu Sinta Dwi Cahya  melihat kegigihan Adinda saat berlatih pedang. Sang raja berfikir bahwa putrinya memiliki jiwa pemberani dan tegas menghadapi masalah. Adinda tidak melihat kedua orang tuanya yang sedang memperhatikan dari kejauhan. Ia sangat fokus dalam berlatih pedang dan menikmati suasana yang terdapat di taman belakang Kerajaan Margasura.
Matahari nampak berada tepat di atas kepala. Adinda memilih tidak melanjutkan latihannya dan memilih istirahat di tempat duduk yang sudah ada di taman tersebut. Kemudian Ratu Sinta Dwi Cahya memanggil seorang pelayan dan memberi perintah  membuatkan makanan dan minuman untuk sang putri. Raja dan Ratu menghampiri putri kesayangannya itu.

Ratu : Adinda sudah latihannya...?? (Tanya ibunda pada putrinya dan duduk bersama suami dan sang putri).

Adinda : Iya bunda, ini baru istirahat.. (Menyeka keringat yang ada di wajahnya).

Tidak lama pelayan yang diperintahkan membuat makanan dan minuman oleh Ratu Sinta Dwi Cahya datang membawa nampan yang ada makanan dan minumannya. Lalu pelayan itu menyerahkannya kepada sang putri dan segera pergi meninggalkan taman. Adinda melahapnya sampai habis tanpa menyadari bahwa di sampingnya ada ayah dan ibunda nya.

Ratu : Ekhemm.. (Berpura - pura tersedak melihat anaknya yang menghiraukan keberadaanya).

Adinda : Ehhh bunda.. maaf bun.. (Menyadari kode ibundanya yang dihiraukan).

Raja :  Lahap bener makannya sampai lupa ada ayah dan bunda..

Adinda : Hmmm.. laper yah dari tadi belum makan Adinda. (Tersenyum malu atas tingkahnya).

Waktu berlalu,  Adinda terus berlatih dengan sungguh -  sungguh, tidak ada kata lelah berlatih pedang kesayangannya tersebut. Raja Syah Praja dan Ratu  Dwi Cahya senang sekali melihat Adinda tidak gampang menyerah. Akan tetapi raja menyimpan suatu rahasia yang menyangkut pedang kesayangan Adinda. Rahasia tersebut konon melibatkan masa depan sang putri. Raja Syah Praja akan jujur disaat waktu yang tepat dan kejadian yang melibatkan putrinya iitu terjadi.

  Enam tahun kemudian Adinda sudah dewasa. Banyak perubahan yang terdapat  pada diri Adinda. Ia menjadi remaja perempuan yang cantik dan baik. Adinda di sukai banyak orang atas kecantikan dan sifat baiknya terebut. Bahkan Adinda di sukai oleh remaja laki - laki di kalangan manapun. Usianya sudah cukup untuk menikah. 

Suatu hari Adinda jalan - jalan sendirian tanpa sepengetahuan ayahnya dan tidak ada yang mengawal Adinda. Adinda sengaja tidak meminta prajurit kerajaan untuk mengawalnya kemana ia pergi. Ia berpamitan kepada prajurit kerajaan hanya jalan - jalan di sekitar Kerajaan Margasura. Adinda jalan - jalan membawa pedangnya supaya jika yang mengganggunya ia akan menyerang dan melawannya. Tidak lama kemudian Adinda tiba di hutan yang rindang yang terletak agak jauh dari Kerajaan Margasura. Hutan itu sepi tidak ada seorang pun yang melintasi hutan itu. Adinda seorang diri melewati hutan dan ia merasa ada orang yang mengikutinya dari belakang. Tetapi di saat Adinda menoleh ke belakang seseorang itu tidak ada dan lolos bersembunyi dari Adinda. Adinda menghiraukan tersebut dan mengira bahwa itu mungkin binatang yang sekedar mencari makan. Dan ternyata benar Adinda yang menjadi santapan para pemuda yang sedang mencari mangsa. Di tengah - tengah hutan ia di hadang oleng dua laki - laki yang berniatan jelek terhadap sang putri raja. Adinda memilih melawan dua laki - laki itu agar tidak menjadi korban laki - laki yang tidak tahu bahwa Adinda adalah anak dari seorang raja di wilayah tersebut. Tenaga Adinda mulai habis dan ia kelihatan sudah lelah menghadapi dua laki - laki itu sendirian. Ia terus saja melawan dengan menggunakan pedang yang di bawanya dan sesekali teriak minta tolong. Akan tetapi Adinda kalah dan mencoba meminta tolong. la takut dan menyesali perbuatannya yang tidak berpamitan saat keluar dari kerajaan.

             Di lain tempat Keluarga Kabuana sangat khawatir melihat Adinda yang tidak ada di kerajaan. Hari semakin sore Raja Syah Praja memerintahkan prajurit untuk mencari Adinda di sekitar kerajaan.

            Di hutan Adinda di tolong sama seorang pemuda tampan yang bernama Dhamar. Awalnya ia sedang berlatih panahan kemudian ia mendengarkan suara perempuan yang meminta tolong. Ia mencari suara teriakan itu tidak lama kemudian ia menemukan seorang perempuan dan dua laki" yang sedang bercekcok mulut. Kemudian Dhamar menolong perempuan itu yang sedang kesakitan memegang luka yang mengeluarkan banyak darah sebab sayatan pedang yang tidak sengaja terkena tangannya. Dhamar berhasil mengusir dua laki - laki itu. Lalu membawa Adinda ke kerajaan yang awalnya sudah di beri tahu oleh Adinda. 
            Adinda di gendong oleh Dhamar dan membawa pedang kesayangan Adinda. Saat Dhamar memegang pedang, pedang itu bersinar memancarkan cahaya. Adinda dan Dhamar kaget saat melihat perubahan pedang itu. Tetapi Adinda menghiraukan kejadian itu dan memilih untuk tidur di gendongan Dhamar. Di setiap perjalanan Dhamar heran dan memikirkan pedang yang bersinar saat di pegangnya. 
         Sesampai di kerajaan Adinda langsung di bawa kekamarnya dan di panggilkan seorang tabib untuk mengobati luka akibat melawan dua laki - laki itu. Dhamar berpamitan pulang kepada Keluarga Kabuana. Keluarga Kabuana sangat berterimakasih atas kebaikan Dhamar kepada sang putri. Keesokan hari nya Adinda menceritakan semua kejadian yang ada di hutan kepada Keluarga Kabuana. Dan menceritakan pedang yang bersinar mengeluarkan cahaya saat di pegang oleh Dhamar. Ayahnya kaget mendengarkan cerita anaknya ternyata kejadian itu terjadi yang menjadi rahasia Raja Syah Praja. Dan ayahnya jujur rahasia yang ia sembunyikan dari dulu. Bahwa pedang itu bersinar saat di pegang pemuda yang tepat dan itu yang akan menjadi suami dari putrinya yaitu Adinda.
          Adinda senang saat mendengarkan pernyataan dari ayahnya. Adinda ternyata menaruh perasaan saat Dhamar datang dan menolongnya. Kemudian Raja Syah Praja memerintahkan prajurit untuk mencari pemuda yang menolong anaknya. Prajurit kerajaan berhasil membawa pemuda yang bernama Dhamar. Raja Syah Praja memberi tahu atas kesaktian pedang yang pernah di pegang Dhamar. Kemudian Dhamar pun senang mendengarkan pernyataan dari sang raja. Setelah itu tidak butuh waktu lama Dhamar memberanikan diri melamar dan jujur atas perasaan Dhamar kepada Adinda.
Keluarga Kabuana menerima lamaran tersebut. Raja menanyakan asal Dhamar yang ternyata anak dari teman Raja Syah Praja. Dhamar berasal dari Kerajaan Sinaparma yang terletak di seberang Sungai Mahesa. Dhamar berpamit pulang dan menjanjikan bahwa akan datang lagi bersama keluarganya.

         Seminggu setelah kejadian itu Dhamar menepati janjinya tersebut dan bermaksud merencanakan pernikahan Adinda dan Dhamar. Kedua keluarga tersebut setuju atas pernikahan Adinda dan Dhamar. Tiga hari kemudian pernikahan tersebut dilaksanakan acara pernikahan itu di buat indah dan mewah. Adinda nampak cantik dan anggun memakai gaun pernikahannya. Dhamar juga nampak tampan memakai pakaian yang di kenakannya. 
Acara itu berjalan dengan lancar.

         Keluarga Kabuana semakin banyak dan bahagia dengan adanya kedua pasangan tersebut. 
~~TAMAT~~

Contoh Teks Hikayat

Hay guys ini hikayat buatan aku sendiri. Baru pertama kali buat hikayat jadi maaf jika ada salah salah kata yang tidak sesuai. Selamat memb...